ABSTRAK
Makalah
ini akan menjelaskan beberapa alternatif konsep jaringan komputer maupun
implementasi yang ada di Indonesia. Konsep / pandangan yang dikembangkan disini
tidak terbatas pada sudut pandang teknologi tetapi juga aspek sosial-ekonomi
khususnya pada strategi penerapan sebuah teknologi ke masyarakat yang bertumpu
pada inisiatif masyarakat itu sendiri secara mandiri sehingga memungkinkan
untuk membangun Indonesia dari bawah. Dunia pendidikan dan penelitian umumnya
menggunakan teknologi packet radio karena biaya operasional yang sangat murah.
Akan di bahas pula berbagai pemikiran, konsep & akumulasi pengalaman dari
beberapa lembaga / institusi / peneliti dalam lingkungan Institut Teknologi
Bandung (ITB) selama lebih dari lima tahun belakangan dalam mengembangan sebuah
sistem informasi berbasis jaringan komputer bertumpu pada media komunikasi
radio untuk hubungan jarak jauh. Secara lebih rinci akan diketengahkan beberapa
alternatif teknologi paket radio yang digunakan beserta laporan berbagai usaha
yang saat ini berjalan, baik untuk membuat sendiri peralatan yang dibutuhkan
seperti modem 1200bps, perangkat 56Kbps, transverter maupun experimen untuk
hubungan ke luar negeri melalui polar orbit satellite maupun geostasionary
satellite. Keseluruhan konsep yang dikembangkan bertujuan untuk menumpu
perkembangan sebuah sistem informasi nasional secara mandiri dan
berkesinambungan (sustainable).
PENDAHULUAN
Pengembangan Sumber Daya Manusia
(SDM) merupakan salah satu prioritas yang penting dan strategis dalam PJP II.
Keberhasilan pengembangkan SDM seperti yang dicanangkan dalam GBHN hanya
mungkin terlaksana jika ditunjang sebuah sistem informasi yang dapat di akses
dan di dukung keberadaannya oleh SDM ybs. Sistem informasi tsb. dapat meliputi
integrasi berbagai perpustakaan, jurnal ilmiah, majalah ilmiah dan media
elektronik. Dengan pesatnya perkembangan dunia komputer, keberadaan sebuah
sistem informasi elektronik berbasis komputer / jaringan komputer yang
mengkaitkan berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia
sifatnya sangat stategis dalam menumpu perkembangan ilmu pengetahuan &
teknologi Indonesia [1][2][3][4].
Dalam era globalisasi dan komputerisasi,
sistem informasi elektronik tidak hanya memegang peranan yang sangat strategis
dalam membentuk SDM akan tetapi juga berbagai unsur pembangun. Integrasi
berbagai informasi yang ada dilapangan akan menjadi sangat strategis sekali
sifatnya dalam melakukan perencanaan / antisipasi dan pengendalian. Hal ini
sangat diperlukan untuk melakukan melakukan justifikasi kebijakan-kebijakan
pada tingkat nasional maupun regional. Tanpa didukung sistem informasi yang
integral akan sulit sekali bagi berbagai unsur pembangun untuk melakukan
antisipasi maupun perencanaan pembangunan untuk jangka panjang [1][2][3][4].
Mengapa kami memilih jaringan
komputer tanpa kabel sebagai topik utama? Mungkin menarik kita simak trend
teknologi komunikasi di tahun 1994 dan mendatang yang diprediksi oleh IEEE
Spectrum [5]. Spectrum melihat bahwa ternyata untuk Asia (termasuk Indonesia)
sistem komunikasi cellular dan radio sangat berkembang pesat. Hal ini sangat
berbeda dengan perkembangan yang ada di dunia barat. Perkembangan yang pesat
dari teknologi komunikasi cellular dan radio ini dikarenakan kapasitas telepon
terpasang di Asia (termasuk Indonesia) sangat tidak memadai permintaan yang ada
[5][6]. Di samping itu, penggunaan radio menjadi menarik dengan dimungkinkannya
melakukan integrasi dengan ISDN [7]. Hal-hal ini ternyata juga telah memicu
terbentuknya jaringan komputer tanpa kabel di dunia perguruan tinggi &
penelitian di Indonesia karena biaya yang dibutuhkan relatif murah dan
memungkinkan untuk mengembangan jaringan secara cepat dengan teknologi yang
sederhana dan dapat dibuat sendiri di Indonesia.
Dalam perkembangannya, keberadaan
jaringan komputer yang dibangun di perguruan tinggi dan lembaga penelitian di
Indonesia yang telah beroperasi selama hampir tiga tahun belakangan ini, yang
dikenal dengan sebutan jaringan komputer Paguyuban, ternyata telah menarik
berbagai pihak industri maupun lembaga-lembaga swadaya masyarakat untuk
bergabung. Hal ini secara langsung merupakan langkah menuju proses link
& match yang sering didengungkan belakangan ini [8]. Dengan adanya
sarana konferensi elektronik maupun surat elektronik, proses link &
match menjadi sangat efisien sehingga berdampak sangat positif pada
penyiapan SDM yang sangat diperlukan bagi pembangun jangka panjang di Indonesia.
Tulisan ini akan menyoroti jaringan
komputer Paguyuban yang sudah beroperasi selama hampir tiga tahun dan terus
berkembang. Jaringan Paguyuban merupakan sebuah jaringan komputer non-profit
untuk pendidikan dan penelitian yang saat ini sifatnya informal. Berbagai aspek
baik yang sifatnya konseptual dari sudut sistem informasi maupun strategi
implementasi konsep tsb. ke masyarakat akan dibahas berdampingan dengan aspek
teknologi berupa berbagai alternatif perangkat yang mungkin digunakan maupun
diproduksi di Indonesia beserta kemungkinan menggunakan teknologi packet radio
untuk hubungan internasional maupun integrasi dengan teknologi jaringan
komputer komersial yang beroperasi saat ini.
KEADAAN JARINGAN KOMPUTER PACKET RADIO DI INDONESIA
Tanpa diketahui oleh banyak orang,
di Indonesia telah berkembangan sebuah jaringan komputer wilayah luas yang
sebagian besar menggunakan keluarga protokol Transmission Control Protocol /
InterNet Protocol (TCP/IP) dan sebagian kecil UUCP (Unix-to-Unix Copy
Program) yang telah beroperasi selama hampir tiga tahun [1][2][3]. Umumnya
untuk komunikasi jarak jauh digunakan media komunikasi radio karena relatif
jauh lebih murah dibandingkan dengan leased line yang ditawarkan badan
komersial. Jaringan ini adalah jaringan komputer informal yang mempunyai nama
"Paguyuban Network" dan mempunyai wilayah operasi mengkaitkan wilayah
Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan terus berkembang. Beberapa usaha yang
sistematis sedang dilakukan untuk membentuk wadah yang lebih formal yang
sifatnya assosiasi antar lembaga yang berfungsi untuk memperjuangkan
kepentingan bersama para aktifis jaringan komputer Paguyuban pada tingkat
nasional. Pembentukan wadah formal harus dipikirkan masak-masak untuk tidak
menambah beban birokrasi yang menghambat perkembangan jaringan komputer
Paguyuban ini.
Jaringan komputer Paguyuban saat ini
beroperasi menghubungkan berbagai perguruan tinggi, seperti, UI, ITB, UGM,
ITENAS, STT-Telkom, PEDC; Lembaga penelitian, seperti, LAPAN, BPPT, LIPI
(Bandung & Jakarta); Lembaga-lembaga negara, seperti, kantor menteri
Lingkungan Hidup, kantor menteri perindustrian, BAPPENAS, BAKOSURTANAL; Juga
beberapa industri / lembaga komersial, seperti PT. USI/IBM, PT. Agung Teknik,
PT. INTI, PT. LEN Industri dll. Di samping itu, cukup banyak lembaga / instansi
yang sedang menyiapkan sumber daya manusianya untuk bergabung dalam jaringan
komputer Paguyuban ini, antara lain, UNPAD, STT-SFB, ITI, UII, IKIP Jogya, ITS,
UKSW, UNIBRAW, UNHAS, UNPATTI, UNCEN, UNHALU, IPTN, PUSPITEK Serpong, Univ.
Petra Surabaya, ASPEK dll.
Di
samping jaringan yang sifatnya nasional, ada beberapa saluran internasional
yang beroperasi, antara lain, saluran UUCP melalui PUSILKOM-UI; saluran SKDP ke
Aachen University melalui BPPT (IPTEK-NET); saluran melalui satelit
geostasioner ETS-V yang langsung menghubungkan Lab. Radar EL-ITB ke CRL/NASDA
di Jepang; saluran melalui VITASAT (satelit berorbit rendah & polar)
melalui stasiun bumi milik Pusat Penelitian Teknologi Transportasi (Prof. Dr.
Iskandar Alisyahbana) yang terletak di Sukabumi / Bogor [1][2]. Untuk jelasnya
mengenai topologi jaringan tulang punggung data jarak jauh dari jaringan
Paguyuban dapat di lihat pada gambar (1). Media komunikasi jarak jauh yang
digunakan adalah media komunikasi radio karena media ini memungkinkan untuk
membangun jaringan dalam wilayah luas dengan biaya operasional sekecil mungkin.
Sebagian besar peralatan maupun perangkat lunaknya sudah mulai dapat diproduksi
sendiri di Indonesia. Bahkan perangkat lunaknya dapat diperoleh secara
cuma-cuma (gratis) dari para aktifis jaringan komputer Paguyuban. Pada operasi
sebenarnya, jaringan tulang punggung ini dihubungkan pada berbagai Local Area
Network (LAN) yang beroperasi di berbagai instansi di dikaitkan. Sehingga total
pemakai jaringan itu sendiri sangat besar.
|
Gambar
2. Kondisi jaringan komputer
menggunakan teknologi packet radio di ITB
Pada saat makalah ini ditulis (May
1994), dalam lingkungan ITB sendiri sudah cukup banyak unit yang terkait,
antara lain, beberapa lab. di lingkungan EL-ITB, PAU-ME-ITB, TI-ITB, ARC-ITB,
HME-ITB, PEDC-ITB, GAMAIS-SALMAN, PPLH-ITB, PIKSI-ITB, IF-ITB, FI-ITB. Yang
saat ini sedang mempersiapkan diri untuk mengkaitkan diri ke jaringan Paguyuban
ini, antara lain, IDC-ITB, PUSTENA-SALMAN, POLBAN-ITB. Kegiatan pengembangan
yang dilakukan di ITB sifatnya sangat informal dan dimotori secara langsung
oleh staf-staf di PAU Mikroelektronika dan Jurusan Teknik Elektro ITB. Saat ini
kami di ITB telah mencanangkan untuk membuka server-server informasi yang dapat
diakses secara langsung dan cuma-cuma yang berisi hasil-hasil penelitian yang
kami lakukan. Gambaran umum jaringan komputer di ITB yang umumnya berbasis
packet radio diperlihatkan pada Gambar (2).
|
APLIKASI/KEUNTUNGAN JARINGAN KOMPUTER DIPANDANG DARI
SUDUT PRAGMATIS
Pertanyaan yang sering dilontarkan
tentang jaringan Paguyuban ini, antara lain adalah - apa keuntungan / kegunaan
utama jaringan ini? Untuk menjawab pertanyaan jenis ini ada baiknya kita
membahas sedikit tentang berbagai "tool" aplikasi yang tersedia dan
banyak digunakan dalam jaringan komputer, antara lain:
• Surat
elektronik (E-mail), yang merupakan alternatif aplikasi untuk mengirimkan
surat secara elektronik menggunakan komputer sehingga jauh lebih cepat dan
effisien dibandingkan jasa Pos maupun FAX. Di samping itu, keberadaan fasilitas
surat elektronik dapat mempercepat proses interaksi antar lembaga karena tidak
melalui birokrasi surat yang berbelit-belit.
• Pengiriman
/ transfer file, fasilitas pengiriman berkas elektronik. Berkas yang
dikirim dapat berupa program-program komputer maupun tulisan dalam format yang
digunakan oleh program pemroses kata. Hal ini sangat membantu dalam mempermudah
pekerjaan terutama dalam pengiriman laporan / proposal maupun hasil kerja
berupa perangkat lunak / disain dalam media elektronik. Di samping itu,
beberapa pusat aktifitas jaringan komputer Paguyuban sedang menyiapkan pusat
data yang cukup besar yang bisa diakses melalui jaringan komputer, seperti:
m IPTEK-NET
- fasilitas data base penelitian di Indonesia.
m PDII
LIPI - fasilitas data base.
m PAU
Mikroelektronika ITB - CD-ROM dan harddisk 1.2Gbyte.
m PUSILKOM-UI
- CD-ROM.
• Diskusi
/ konferensi elektronik, merupakan media konferensi yang dapat dilakukan
secara terus-menerus tanpa terikat pada dimensi ruang dan waktu sehingga sangat
effektif untuk penggunaan sebagai media transfer teknologi, pendidikan jarak
jauh, koordinasi antar lembaga, koordinasi pengembangan wilayah yang melibatkan
banyak orang sekaligus yang tersebar dalam wilayah yang sangat luas. Saat ini
ada beberapa diskusi elektronik yang cukup aktif dijalankan di jaringan
komputer Paguyuban, antara lain:
m id.pau.mikro
- merupakan kelompok diskusi para karyasiswa Indonesia di luar negeri yang
mengkhususkan diri pada masalah mikroelektronika & komputer.
m id.net.sysop
- kelompok diskusi elektronik aktifis jaringan komputer Paguyuban tentang
masalah teknologi jaringan komputer maupun koordinasi operasinal jaringan.
• Fasilitas
untuk remote login, memungkinkan untuk menggunakan mesin-mesin komputer
yang berada pada lokasi yang jauh. Hal ini akan sangat menguntungkan jika
diperlukan akses ke komputer-komputer yang mempunyai spesifikasi khusus yang
sangat jarang di Indonesia. Sebagai gambaran, misalnya BPPT / IPTN mempunyai
super komputer Cray maka para peneliti / pengguna Cray di luar jawa tidak perlu
menghabiskan biaya perjalanan ke Jakarta atau Bandung hanya untuk menggunakan
mesin Cray tsb. Hal ini akan sangat menghemat waktu maupun biaya.
• Basis
data yang terdistribusi, merupakan program aplikasi yang memungkinkan untuk
mengkoordinasikan basis data yang tersebar diberbagai instansi / komputer
sehingga mudah sekali bagi pengguna jaringan dalam mencari informasi / data. Keseluruhan
proses dijalankan secara otomatis dan transparan bagi pengguna jaringan,
sehingga sangat memudahkan operasi basis data terdistribusi tsb. Fasilitas ini
sedang diaktifkan menggunakan program Gopher, yang antara lain akan di
operasikan di IPTEK-NET (BPPT), lingkungan ITB, lingkungan PDII-LIPI.
Berdasarkan
"tool" yang dijelaskan diatas, dapat diturunkan beberapa aplikasi
jaringan komputer Paguyuban yang saat ini sedang berjalan secara aktif, antara
lain:
• Adanya kecenderungan
penggunaan jaringan komputer khususnya yang melibatkan berbagai instansi /
lembaga dalam wilayah yang sangat luas terutama memudahkan interaksi secara
personal dan tidak dibebani oleh birokrasi yang sering kita dapati diberbagai
lembaga / instansi yang ada.
• Adanya usaha yang
sistematis sedang berjalan dengan pesat untuk melakukan transfer teknologi yang
di bantu oleh rekan-rekan karyasiswa Indonesia yang sedang belajar di luar
negeri melalui jaringan komputer InterNet.
• Usaha yang sistematis
dalam membentuk industri kecil / menengah untuk menunjang penyediaan peralatan
maupun SDM bagi pengembangan lebih lanjut jaringan komputer Paguyuban. Hal ini
sangat penting & strategis terutama untuk melepaskan ketergantungan
Paguyuban Network pada perangkat dari luar negeri.
Adalah
cita-cita kami untuk membangun sebuah jaringan komputer di Indonesia yang
terkait pada InterNet. Saat ini beberapa orang di Indonesia (termasuk kami)
bertindak sebagai koordinator IP address untuk jaringan komputer TCP/IP di
Indonesia. Hal ini nantinya akan memudahkan Indonesia jika suatu saat nanti
jaringan TCP/IP yang ada akan bergabung ke InterNet. Beberapa alternatif konsep
dan strategi penggunaan jaringan komputer sebagai media pembangunan telah
dikemukakan, konsep-konsep ini kami coba tuangkan dalam beberapa bagian dibawah
ini.
KONSEP PENGEMBANGAN WILAYAH/MASYARAKAT BERBASIS SISTEM
INFORMASI
Konsep yang kami pikirkan untuk
membangun sistem perekonomian berbasis jaringan komputer adalah dengan
menggunakan informasi semaksimal mungkin untuk membangun masyarakat atas
inisiatif masyarakat itu sendiri yang bertumpu pada pranata ekonomi yang ada.
Pendekatan ini diharapkan agar dapat menjamin kesinambungan perkembangan sistem
maupun perekonomian tersebut. Konsep ini bertumpu pada pengembangan wilayah
yang bertumpu pada masyarakat itu sendiri. Secara konseptual sistem informasi
berbasis jaringan komputer khususnya yang berkaitan dengan pengembangan wilayah
/ masyarakat dapat kita pandang dari dua arah / pendekatan, yaitu:
• Pendekatan struktural.
• Pendekatan fungsional.
|
Secara struktur kita dapat melihat
sebuah sistem informasi berbasis jaringan komputer secara berlapis. Lapisan
konseptual lapisan sistem informasi berbasis jaringan komputer dapat dilihat
pada gambar (3). Secara umum dapat kita bagi dalam empat lapisan utama, yaitu:
• Lapisan fisik berupa
peralatan komputer yang terkait dalam sebuah jaringan komputer.
• Lapisan perangkat lunak
aplikasi penunjang, dapat berupa dBase, spread sheet dll.
• Lapisan aplikasi sistem
informasi, seperti Geographics Information System (GIS), Management
Information System (MIS).
• Lapisan konseptual berupa
Sistem Informasi Eksekutif (SIE) dan/atau Expert System (ES) untuk mempercepat
proses pengambilan keputusan & kebijaksanaan.
|
Umumnya pengambil kebijaksanaan atau
praktisi lapangan di Indonesia sudah cukup mahir untuk menguasai teknik-teknik
pada dua lapisan teratas dalam konsep sistem informasi yang mengkaitkan wilayah
luas. Akan tetapi masih perlu banyak pemikiran / usaha untuk mengintegrasikan
kedua lapisan aplikasi dan konseptual diatas dengan lapisan fisik jaringan
komputer yang memungkinkan efisiensi pengembangan sistem informasi yang
meliputi wilayah luas tanpa perlu terikat secara fisik pada dimensi ruang dan
waktu. Bayangkan bahwa seorang perencana pembangunan, investor, bankir di
Indonesia cukup dengan menekan sebuah tombol komputer dapat langsung mengetahui
kondisi perekonomian dalam wilayah yang luas yang selalu ter-audit dan di
up-date setiap hari. Tentunya hal yang dibayangkan tadi masih jauh dari
kenyataan, akan tetapi beberapa usaha sistematis untuk melakukan integrasi
sistem informasi, seperti, GIS dan MIS, dengan jaringan komputer sedang
dilakukan dengan kerjasama multi-disiplin, antara lain oleh, PPLH-ITB, Program
Study S2 Pembangunan ITB, PAU Mikroelektronik
Strata informasi perlu diperhatikan
secara seksama dalam implementasi konsep ini. Ada informasi-informasi tingkat
lokal yang sifatnya operasional yang tidak terlalu berpengaruh pada
kebijaksanaan tingkat regional maupun nasional. Jadi topologi fisik jaringan
perlu dipikirkan untuk disesuaikan dengan strata informasi yang dibutuhkan.
Pada umumnya, kepadatan arus informasi akan cukup padat pada strata lokal, pada
tingkat yang lebih tinggi arus informasi relatif lebih rendah dibandingkan
tingkat yang dibawahnya karena adanya proses filtering terhadap
informasi tingkat lokal sehingga hanya informasi-informasi yang sangat
berpengaruh terhadap kebijaksanaan tingkat regional / nasional yang perlu
ditransmisikan pada jaringan tulang punggung tingkat regional / nasional.
Strata informasi ini dapat dilihat sebagai sebuah segitiga informasi pada
gambar (4). Untuk lebih membumikan konsep di atas, ada baiknya dibahas secara
lebih rinci contoh aplikasi lapangan yang sedang berjalan saat ini.
Aplikasi jaringan komputer yang akan
diketengahkan pada kesempatan ini adalah konsep penggunaan jaringan komputer
untuk mengkaitkan sistem koperasi untuk menumpu sistem perekonomian. Pada
kesempatan ini, kami akan mencoba mengangkat tujuan / fungsi sebuah sistem
informasi untuk mencapai pemerataan pendapatan dalam sebuah masyarakat [9].
Kondisi ini mungkin dicapai dengan menyempitkan berbagai jurang sosial-ekonomi
yang ada, seperti yang tampak dengan jelas saat ini adanya perbedaan tingkat
sosial, ekonomi maupun pendidikan antar wilayah di Indonesia. Sayangnya, acuan
keberhasilan pembangunan yang umum dipakai, seperti GNP, sifatnya sangat global
yang akhirnya cenderung untuk mengadopsi berbagai kebijaksanaan yang bersifat
memaksimalkan hasil produksi dan pemasaran secara nasional. Hal tsb. diatas
secara tidak langsung menyembunyikan berbagai permasalahan sosial-ekonomi pada
tingkat keluarga, wilayah maupun sektor informal. Pada kesempatan ini kami
mencoba membahas sebuah pemikiran untuk mengaplikasikan jaringan komputer /
sistem informasi untuk pembangunan masyarakat pedesaan [9]. Konsep ini
diharapkan tidak hanya mengacu para referensi-referensi global seperti GNP
tetapi juga pada refensi-referensi lokal pada tingkat keluarga yang dibantu
dengan adanya informasi yang direkam oleh keberadaan jaringan komputer.
Tentunya pemikiran ini tidak hanya terbatas pada pengembangan pedesaan tapi
dapat ditranslasikan pada penggunaan lainnya seperti pembangunan industri kecil
/ menengah maupun SDM pada tingkat D1-D3. Konsep ini pengembangan wilayah pedesaan
berbasis sistem informasi yang ditumpangkan pada jaringan pra-koreasi
simpan-pinjam sedang dalam proses implementasi di daerah Jasinga, Jawa Barat
dengan dimotori oleh Prof. Hasan Poerbo, PPLH-ITB.
Bagaimana kemungkinan implementasi
konsep diatas? Dua hal yang cukup menentukan dalam implementasi konsep diatas,
yaitu:
• pembiayaan
proses yang berjalan
• pemilihan
teknologi informasi yang tepat
Institusi
ekonomi tingkat pedesaan seperti pra-koperasi simpan pinjam mempunyai potensi
yang cukup besar dalam mengatasi berbagai permasalahan ekonomi regional yang
ada. Agar sistem (jaringan informasi untuk pengembangan wilayah pedesaan) tidak
tergantung dari atas, pembiayaan sistem yang disarankan dapat langsung
diperoleh dari assosiasi pra-koperasi itu sendiri dengan memakai
"bunga" pinjaman sebagai modal. Tentunya dibutuhkan jumlah anggota
minimal dalam pra-koperasi ini (misalnya 25 kepala keluarga) agar dapat tetap
hidup tanpa perlu bantuan dari luar. Sebuah assosiasi pra-koperasi dengan anggota
20-30 pra-koperasi cukup mudah menyediakan dana sebesar 4-6 juta rupiah
per-tahun untuk membiayai sistem informasi antar pra-koperasi.
Pemilihan teknologi informasi sangat
tergantung pada kondisi masyarakat yang ada. Kondisi pedesaan yang ada
tampaknya tidak memungkinkan untuk menggunakan komputer mikro (laptop) di
tingkat pra-koperasi. Akan tetapi cukup mudah bagi kita untuk mendidik lulusan
sekolah menengah di pedesaan untuk mengoperasikan sebuah komputer laptop.
Sebuah komputer laptop dapat diperoleh dengan dana sebesar 1.5-2 juta rupiah,
sisa dana dapat digunakan untuk biaya operasi bagi operator tamatan sekolah
menengah ini untuk berkeliling ke pra-koperasi serta mengumpulkan data setiap
bulan. Dalam assosiasi pra-koperasi tingkat kecamatan atau kabupaten jaringan
informasi dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi yang relatif lebih
canggih seperti menggunakan teknologi jaringan komputer menggunakan radio
(paket radio) [10][11].
Bayangkan apa yang mungkin kita
peroleh dengan mengkaitkan dengan informasi yang ada pada proses simpan pinjam
pada institusi ekonomi tingkat pedesaan seperti pra-koperasi simpan pinjam,
misalnya:
• Informasi yang ada dapat
berupa penghasilan yang diperoleh (misalnya dari hasil bumi), keadaan sumber
penghasilan anggota pra-koperasi dll. Dengan menggabungkan informasi yang ada
dari berbagai pra-koperasi di suatu wilayah, keadaan wilayah dapat ditela'ah.
Informasi ini akan sangat berguna bagi pengambilan keputusan-keputusan untuk
mengembangkan wilayah yang dilakukan pada tingkat yang lebih tinggi maupun
untuk menarik investasi dari luar ke dalam suatu wilayah (dalam hal ini wilayah
pedesaan).
• Pola penggunaan sumber
daya lokal. Pola ini dapat digunakan untuk melakukan prediksi sederhana,
misalnya, menggunakan teknik-teknik regresi yang dikaitkan dengan pemrograman
linier. Bertumpu pada data pra-koperasi yang terintegrasi dan teraudit dengan
baik, prediksi dapat dilakukan untuk banyak hal, seperti:
m Estimasi
tingkat bunga yang cukup aman untuk melakukan investasi yang menguntungkan
semua pihak.
m Pola
perilaku masyarakat dalam menggunakan sumber daya lokal maupunm dalam melakukan
operasi ekonomi.
m Alokasi
dana pada tingkat keluarga dan wilayah. Konsep pengembangan wilayah yang kami
pikirkan bertumpu pada pengkaitan informasi dalam sistem pra-koperasi
simpan-pinjam. Informasi khususnya tentang peri-kehidupan ekonomi anggota
koperasi dapat secara tidak langsung dicerminkan dari kegiatan simpan pinjam
yang dilakukan.
m Study
pola investasi yang terbaik yang mungkin dilakukan pada suatu wilayah yang
disesuaikan dengan kemampuan masyarakat maupun sumber daya yang ada pada
wilayah tersebut.
• Di tinjau dari sumber
pinjaman. Bank melalui jaringan komputer dapat melayani jaringan assosiasi
pra-koperasi tingkat pertama, dengan performance collateral yang
didasarkan atas informasi dari komputer laptop yang di-audit. Jika diperlukan,
audit ditingkat pra-koperasi dapat juga dilakukan secara acak tetapi periodik.
Pinjaman diberikan pada asosiasi, yang kemudian menyalurkannya pada anggota
atas dasar tanggungan sambung-renteng.
• Tapi sumber pinjaman
tidak hanya bank, melainkan dari interlending di tingkat asosiasi
pertama dan kedua, jika ada mungkin asosiasi tingkat ke tiga dst. Bank juga
akan memberikan pinjaman pada tingkat-2 yang bersangkutan menurut besarnya
asosiasi. Hal ini dapat merupakan investasi yang bertingkat, semakin tinggi
asosiasinya, semakin besar dana yang dapat dipinjam. Jadi sesuai dengan konsep
PIR yang terbalik, seluruh proses dikendalikan dari bawah (bottom-up
approach). Implikasi konsep ini adalah untuk mengadakan integrasi ekonomi
lokal pada ekonomi regional, pemerataan, dsb.
• Arus informasi juga dapat
berbalik, dibawa oleh komputer laptop dari atas ke bawah, misalnya:
m Informasi
pasaran komoditi yang tentunya sangat menguntungkan bagi masyarakat pedesaan
yang memungkinkan mereka untuk mengakses langsung pasar komoditi dan dapat
memilih sendiri harga yang paling menguntungkan bagi masyarakat itu sendiri.
m Peraturan-peraturan
yang ada, bahkan mungkin dilakukan interaksi antara pihak pembuat peraturan
dengan masyarakat itu sendiri agar diperoleh keuntungan sebesar-besarnya bagi
masyarakat tersebut.
m Berbagai
teknologi tepat-guna yang akan sangat berguna bagi proses pembangunan fisik di
pedesaan. Yang penting untuk dipahami adalah kemungkinan untuk melakukan
interaksi secara aktif dengan para ahli di luar daerah pedesaan yang diharapkan
dapat meningkatkan keberhasilan proses implementasi teknologi tepat guna
tersebut.
m Dakwah
m Informasi
mengenai masalah organisasi dan manajemen.
Tentunya
masih banyak lagi informasi yang mungkin mengalir dari atas. Yang penting
disini adalah pengembangan fungsi yang sangat strategis: Technical &
Management Service Organization, dimana operator laptop merupakan perantara
anggota pra-koperasi dengan para ahli dan dunia luar. Operator laptop ini yang
mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan, dimasukan dalam komputer laptop dan jawaban
dari tenaga ahli diluar disampaikan tertulis melalui komputer laptop. Ditambah
dengan program radio dan koran masuk desa, bukan mustahil akan terjadi revolusi
informasi di pedesaan.
• Sistem jaringan informasi
pra-koperasi ini dapat pula dihubungkan dengan pembangunan wilayah yang
didasarkan atas mobilisasi sumberdaya lokal, yang dipertemukan dengan
sumberdaya luar yang terkendalikan dari bawah. Atau setidaknya, yang dari bawah
terorganisasikan untuk mengadakan collective bargaining, ditunjang oleh
informasi yang meyakinkan dengan kekuatan moneter yang ter-audit dengan baik.
Secara keseluruhan sistem yang dikembangkan dapat melakukan interfacing dengan
sistem pembangunan / perencanaan pembangunan nasional dengan kontrol yang lebih
ketat dari bawah maupun atas sehingga dapat diharapkan hasil yang diperoleh
akan lebih memuaskan banyak pihak khususnya masyarakat pedesaan.
• Selanjutnya, mari kita
telaah sistem yang dikembangkan sebagai sistem kebijaksanaan yang sifatnya
nasional. Sistem yang kami pikirkan berbeda dengan sistem koperasi konvensional
yang kita kenal, dimana informasi yang ada umumnya terbelenggu pada tingkat
pra-koperasi / koperasi dan relatif tertutup bagi sistem diatasnya. Dapat
dibayangkan, dalam sistem ini kita mendapatkan GIS (Geographic Information
System) secara gratis sebagai hasil sampingan. Caranya dengan memasukkan
setiap bulan tambahan satu atau dua variabel ke dalam komputer, pada saat
melayani anggota pra-koperasi. Integrasi GIS dengan jaringan komputer radio
memungkinkan untuk memperoleh data informasi yang akurat dalam waktu singkat
yang memudahkan proses perencanaan pembangunan. Hal ini dimungkinkan karena
adanya partisipasi aktif masyarakat dalam melakukan self-survey GIS.
Dengan adanya aktifitas penelitian
di PPLH-ITB dalam melakukan mapping menggunakan teknologi small format areal
photopgraphy yang relatif murah dapat kita bayangkan bahwa GIS yang
dikembangkan mungkin dapat juga meliputi Land Information System (LIS)
yang sifatnya strategis. Masalah transmisi data berjumlah besar yang dibutuhkan
dalam GIS dan LIS sebetulnya tidak menjadi masalah yang cukup menghambat
apalagi dengan dikembangkannya sistem packet radio kecepatan tinggi yang akan
diketengahkan di akhir tulisan ini.
Gambaran konseptual dari pemikiran ini
diperlihatkan pada Gambar (5). Konsep pengembangan wilayah berbasis sistem
informasi atas inisiatif masyarakat itu sendiri saat ini sedang dalam tahap
implementasi oleh kelompok yang dipimpin oleh Prof. Hasan Poerbo, PPLH-ITB di
daerah Jasinga (Antara Bogor dan Banten). Sifat penelitian adalah Partisipatory
Action Research yang didukung oleh Canadian International Development Agency
(CIDA) dan World Bank.
Tentunya untuk merealisasikan konsep
ini perlu dijustifikasi dengan usaha-usaha sistematis dalam melakukan dukungan
teknis peralatan yang digunakan. Usaha untuk membangun industri penunjang
maupun penguasaan teknologi yang diperlukan akan dijelaskan secara lebih rinci
pada bagian selanjutnya.
KONSEP ORGANIZED DEMAND CREATED SUPPLY
Selanjutnya, kami akan mencoba
menganalisa langkah / strategi / konsep yang secara tidak tertulis telah
dijalankan dalam mengimplementasikan teknologi jaringan komputer packet radio
ke masyarakat. Secara konseptual proses implementasi teknologi jaringan
komputer ke masyarakat lebih mendekati pendekatan secara demand yang
bertumpu pada inisiatif masyarakat itu sendiri untuk menyediakan supply
peralatan maupun instalasi yang dibutuhkan. Konsep ini mendekati sebuah konsep organized
demand created supply yang mempunyai effek yang sangat effektif dalam
menjaga kesinambungan proses perkembangan jaringan komputer yang dibangun.
Secara umum dalam proses pengembangan jaringan komputer Paguyuban ini ada tiga
buah unsur pokok yang penting, yaitu [4][12]:
• Pengembangan
Sumber Daya Manusia (SDM).
• Penguasaan/pengembangan/penyebaran
ilmu pengetahuan.
• Pembentukan
pra-sarana logistik/industri penunjang.
Dari
ketiga unsur diatas, kemampuan dan motivasi SDM merupakan kunci utama
keberhasilan seluruh program yang ada. SDM ini dapat kita pandang dari sudut
demand maupun supply. Tentunya kemampuan untuk melakukan perkembangan secara
berkesinambungan akan dapat dijamin jika sisi demand dapat secara mandiri
menumpu sisi supply yang diperlukan olehnya. Konsep ini dikenal sebagai organized
demand created supply yang ditujukan untuk membangun secara mandiri tanpa
banyak tergantung dari luar. Barangkali mirip dengan pepatah Cina agar
"memberikan kail daripada ikan". Beberapa asumsi dasar yang mendekati
sebagian besar kondisi lapangan yang ada, adalah:
• Tidak
ada sumber daya manusia yang betul-betul ahli dalam masalah praktis jaringan
komputer (baik dari segi perangkat keras, perangkat lunak maupun manajemen).
• Tidak
ada industri penunjang untuk memperoleh perangkat keras / perangkat lunak untuk
keperluan jaringan yang dibutuhkan (diproduksi) di dalam negeri.
• Harga
perangkat komputer mikro (PC) di pasaran Indonesia dapat terjangkau oleh
sebagian besar institusi/organisasi peserta jaringan.
• Umumnya
tidak disediakan dana khusus di lembaga-lembaga di Indonesia untuk keperluan
pengembangan jaringan komputer.
• Teknologi
paket radio akan digunakan sebagai tumpuan utama untuk mebangun jaringan
komputer di Indonesia karena sifatnya yang sederhana dan sangat decentralized
sehingga bisa mematahkan monopoli sehingga memungkinkan untuk bottom-up
development.
• Sedapat
mungkin mendayagunakan semaksimal mungkin sumber daya (manusia & peralatan)
yang sudah ada di lembaga/institusi tersebut.
Beberapa
konsekuensi dan hal-hal yang perlu dipikirkan dengan adanya asumsi di atas
adalah:
• Titik
berat strategi ini diharapkan untuk mengarah pada strategi-strategi untuk
mengembangkan kemampuan & motivasi SDM di Indonesia.
• Sedapat
mungkin mendayagunakan prasarana & kemampuan yang sudah ada. Kemampuan
lobbying akan menjadi penting untuk mengintegrasikan prasarana / kemampuan yang
ada & tersebar dibanyak instansi/organisasi menjadi satu kesatuan.
• Usaha
yang sistematis dalam menyakinkan para birokrat & politisi ditingkat pusat
tentang potensi yang ada pada konsep jaringan komputer berbasis teknologi
packet radio.
• Sedapat
mungkin melakukan lobby-lobby tingkat internasional maupun nasional (mis.
melalui konperensi internasional) untuk memperoleh dukungan/dana yang tidak
mengikat dari lembaga/industri (contoh: UNDP, CIDA, IDRC, JSPS, VITA, dll). Ini
penting untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada satu sumber dana untuk
menjamin kelangsungan pembangunan.
Beberapa
tujuan jangka pendek yang ingin dicapai dari strategi yang akan digunakan ini
adalah:
• Membentuk
dasar-dasar untuk membangun jaringan komputer di Indonesia yang sustainable
(berlanjut) dan self-financing. Kemampuan dan motivasi dari sumber daya manusia
yang tersedia akan menjadi tumpuan utama dari perkembangan ini (bukan
kecanggihan peralatan yang digunakan).
• Membentuk
dasar untuk pengembangan sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk menumpu
perkembangan jaringan.
• Melakukan
reverse engineering (dari perangkat yang tersedia di public domain) dengan SDM
yang ada untuk memperoleh pengalaman.
• Mencari
alternatif perangkat keras/perangkat lunak/pra-sarana komunikasi yang akan
dipakai.
• Memberikan
dasar-dasar untuk membangun dari bawah bagi industri kecil/industri rumah yang
dibutuhkan untuk menumpu perangkat keras/perangkat lunak yang dibutuhkan untuk
pengembangan jaringan.
• Mencari
alternatif strategi/jalan untuk melepaskan diri dari ikatan/ketergantungan yang
mungkin akan menghambat perkembangan jaringan.
Mari
kita lihat lebih lanjut beberapa sumber daya yang sudah ada dan mungkin
digunakan/ dikembangkan lebih lanjut untuk membangun jaringan komputer
menggunakan radio di Indonesia.
• Jaringan
komputer Paguyuban sebagai lembaga informal dapat menjadi lembaga pendamping
masyarakat dalam mendorong terbentuknya jaringan komputer selama ini &
dimasa mendatang.
• Perangkat
lunak NOS (+ source code + executable) yang ada di amatir radio
dapat diperoleh secara cuma-cuma untuk keperluan pendidikan & penelitian
(untuk komersial sifatnya shareware $50) [13].
• Rancangan
beberapa perangkat keras di amatir radio dapat diperoleh di public domain untuk
keperluan non-komersial (seperti SCC-card).
• Paling
tidak dua perguruan tinggi utama di Indonesia ITB & UI dapat menjadi sarana
untuk mengembangkan SDM (program S1/S2/S3) untuk menumpu pengembangan jaringan
komputer.
STRATEGI MEMBANGUN INDUSTRI KECIL / MENENGAH
PENUNJANG.
Industri kecil / menengah sangat
menarik untuk menjadi tumpuan dari perkembangan jaringan komputer Paguyuban
terutama jika kita kaitkan dengan konsep organized demand created supply
diatas. Ada beberapa sifat yang menarik dari industri kecil / menengah:
• Industri kecil / menengah mempunyai
potensi untuk dibina kedalam sebuah sistem sub-contracting secara kooperative
sehingga mengurangi beban yang ada di industri besar.
• Gross
capital employed / fixed capital stock yang lebih tinggi daripada industri
besar yang berarti perputaran modal industri kecil yang lebih cepat daripada
industri besar.
• Gross
profit ratio industri kecil umumnya lebih besar daripada industri besar. Bahkan
bukan mustahil perbedaan upah pekerja industri kecil dan industri besar dapat
dipersempit seperti halnya yang terjadi di Jepang.
• Industri
kecil / menengah mempunyai sifat yang tidak dapat dengan mudah di monopoli. Di
samping itu, industri ini yang merupakan tumpuan langsung bagi kehidupan rakyat
kecil di Indonesia.
• Cukup
banyak amatir radio yang bergerak secara informal di industri per-radio-an. Hal
ini merupakan SDM yang tidak bisa dikesampingkan.
• Proses
pembentukan industri kecil / menengah lebih banyak ditentukan oleh manusia-nya
yang akan memproduksi alat / barang bukan semata-mata oleh struktural peraturan
pemerintah / dana.
Beberapa
kekuatan dan sumber daya yang sudah ada dan mungkin dikembangkan dan diminta
bantuannya untuk mendukung pengembangan jaringan komputer menggunakan radio
adalah:
• Departemen
Koperasi dan industri kecil di Indonesia harusnya sudah cukup banyak
berkecimpung dalam bidang ini. Insya Allah, hal ini dapat merupakan sumber daya
yang cukup bisa di andalkan.
• Ada
beberapa NGO/LSM yang bergerak di Industri kecil, seperti PUPUK dan Yayasan
Mandiri, yang umumnya dimotori oleh para alumni ITB.
• Ada
kelompok peneliti/NGO yang bergerak dibidang teknologi tepat guna, seperti:
m Pusat
Penelitian Teknologi (DTC).
m Pusat
Penelitian Transportasi (Pak Iskandar Alisyahbana).
• Kelompok
peneliti yang bergerak di bidang telnologi elektronika/mikroelektronika,
seperti,
m PAU
mikroelektronika ITB.
m Lab.
Radar, Jurusan Teknik Elektro, ITB
• Industri
kecil / menengah elektronika di Indonesia cukup cukup berkembang, misalnya, di
Bandung yang bertumpu pada pasar Cikapundung dan di Jakarta, yang lebih
bersifat komersial / konglomerat di Glodok.
Secara umum kita dapat menggunakan
konsep organisasi matrix dalam sekala besar yang mengkaitkan antara
lembaga-lembaga yang menjadi sumber pengetahuan seperti perguruan tinggi &
LSM dengan industri-industri kecil sebagai muara dari teknologi. Integrasi dan
pembinaan dapat dilakukan secara effisien menggunakan jaringan komputer yang
ada.
Yang mungkin menarik untuk disimak,
kebanyakan NGO/LSM yang ada umumnya dimotori oleh orang-orang yang cukup
idealis dan berdedikasi (walaupun kadang-kadang cara berfikirnya tidak sama
dengan instansi pemerintahan). Hal ini perlu dilihat dari sudut positif
terutama dalam melihat alternatif-alternatif yang kemungkinan lebih effisien
dan strategis untuk dapat berjalan tanpa perlu bergantung banyak dari perintah
dari atas.
KELEMBAGAAN JARINGAN KOMPUTER DI INDONESIA.
Untuk menunjang perkembangan
jaringan komputer tentunya diperlukan semacam badan koordinasi (baik sifatnya
formal maupun informal) yang memungkinkan untuk melakukan manajemen jaringan.
Pemikiran telah dilakukan untuk membentuk sebuah lembaga yang bertugas
menunjang operasi dan pengembangan jaringan. Tujuannya adalah memberikan
dasar-dasar bagi lembaga pendukung jaringan komputer yang menitik beratkan pada
kerjasama antara para pemakai jaringan untuk mendukung operasi jaringan. Adapun
bentuk lembaga tidak penting, yang penting sifatnya harus dapat memungkinkan
bagi para anggota untuk tetap bergerak & bekerjasama tanpa paksaan/ikatan.
Asumsi yang digunakan:
• Sebuah
kelembagaan hanya mungkin terbentuk jika didasari oleh rasa memiliki &
membutuhkan dari anggotanya.
• Sebuah
lembaga harus dapat melindungi & memperjuangkan kepentingan anggotanya
khususnya pada tingkat nasional.
• Sebuah
kelembagaan jaringan komputer harus dibuat sedemikian rupa agar mekanisme operasinya
tidak menambah beban birokrasi pada perkembangan jaringan komputer Paguyuban.
Jika
hal diatas tidak dapat dipenuhi sebaiknya lembaga jaringan komputer ini untuk
sementara tidak dilembagakan secara formal.
Beberapa kekuatan yang sudah ada
saat ini dan mungkin dikembangkan lebih lanjut untuk menunjang perkembangan
jaringan adalah:
• Paguyuban
TCP/IP sebagai lembaga informal yang saat ini aktif bergerak membangun jaringan
komputer di perguruan tinggi & lembaga penelitian.
• Amatir
radio - sebetulnya merupakan salah satu kekuatan yang ada di Indonesia. Apakah
mungkin para-birokrat di amatir radio dilibatkan disini? di samping banyak
konstrain yang mengikat para operator amatir radio untuk melakukan relay
berita.
• Banyak
perusahaan/industri yang mempunyai jaringan komputer sendiri yang terkait
dengan induk-nya di luar negeri.
Beberapa
langkah strategis yang mungkin diambil dalam program jangka pendek:
• Paguyuban
TCP/IP tampaknya akan merupakan awal sebuah lembaga jaringan komputer di Indonesia.
Gerakan tidak perlu dilakukan secara drastis untuk merubah sifat paguyuban yang
ada saat ini.
• Langkah
awal ke arah terbentuknya lembaga jaringan komputer adalah manajemen /
pengorganisasian keuangan untuk:
m sharing
resources yang ada (terutama untuk telepon interlokal ke luar negeri).
m pengembangan
jaringan (misalnya untuk mendirikan IP-switches, menaikan kecepatan,
memperbaiki perangkat keras dll).
• Langkah
selanjutnya adalah lobbying dengan berbagai instansi/NGO/LSM/perusahaan/
industri tentang kemungkinan penggabungan jaringan yang ada. Ini penting sekali
sifatnya terutama ditinjau dari keberuntungan yang diperoleh bagi semua pihak
yang terlibat. Dari sudut pembentukan sumber daya manusia di perguruan tinggi,
contohnya:
m mahasiswa/dosen
akan lebih mudah berinteraksi dengan industri & membuka wawasan pemikiran
tentang masalah yang terjadi di Industri.
m Industri/instansi
dapat memberikan masukan-masukan bagi perguruan tinggi tentang kebutuhan yang
ada (baik sumber daya manusia / teknologi).
Menurut
pandangan penulis, tampaknya bentuk kelembagaan yang paling mendekati sempurna
untuk keperluan ini ada tiga macam, yaitu:
• Koperasi
jaringan komputer: yang sifatnya non-profit & bertumpu pada kebutuhan dari
anggota untuk anggota lainnya.
• Lembaga
Swadaya Masyarakat bidang Teknologi jaringan komputer: yang fungsinya adalah
mendampingi masyarakat / lembaga / instansi yang ingin bergabung ke jaringan.
• Lembaga
yang sifatnya "pusat" barangkali lebih merupakan assosiasi dari
berbagai lembaga yang tergabung dalam jaringan komputer. Sebaiknya diketuai
oleh semacam board of director yang berfungsi sebagai steering
committee dan sebagian besar kekuasaan tetap berada pada tangan anggota
supaya tidak menambah beban birokrasi dalam jaringan yang nantinya mempersulit
perkembangan jaringan.
Keberadaan
ketiga jenis lembaga ini sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup
jaringan komputer Paguyuban.
ARSITEKTUR JARINGAN KOMPUTER
Arsitektur jaringan komputer yang
sering diassosiasikan dengan jaringan komputer TCP/IP terdiri atas lima lapisan
protokol. Lapisan-lapisan ini adalah lapisan fisik, lapisan link, lapisan
network, lapisan transport dan terakhir lapisan aplikasi. Arsitektur ini agak
berbeda dengan konsep tujuh lapisan protokol yang sering kita kenal secara
teoritis dalam konsep OSI/ISO [16][17].
Dari kelima lapisan ini hanya physical
layer yang merupakan perangkat keras selebihnya merupakan perangkat lunak. Physical
layer merupakan media penghubung untuk mengirimkan informasi digital dari
satu komputer ke komputer lainnya yang secara fisik dapat kita lihat. Berbagai
bentuk perangkat keras telah dikembangkan untuk keperluan ini. Satu diantaranya
yang cukup banyak digunakan untuk keperluan jaringan komputer lokal (LAN)
adalah ARCnet yang dikembangkan oleh Novell. Untuk keperluan Wide Area
Network (WAN) dapat kita gunakan media radio atau telepon. Dalam makalah
ini fokus akan diberikan terhadap teknologi paket radio sebagai media
komunikasi jarak jauh dalam WAN TCP/IP. Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut
pada bagian selanjutnya.
Untuk mengatur hubungan antara dua
buah komputer melalui physical layer yang ada digunakan protokol link
layer. Pada jaringan paket radio digunakan link layer AX.25 (Amatir
X.25) [18][19][20][21] yang merupakan turunan CCITT X.25 [22] yang juga
digunakan pada Sistem Komunikasi Data Paket (SKDP) oleh PT. INDOSAT dan
Perumtel. IEEE telah mengembangkan beberapa standart protokol untuk LAN [23].
Berdasarkan rekomendasi IEEE pada LAN yang menggunakan ARCnet (IEEE 802.3) atau
Ethernet (IEEE 802.3) digunakan link layer (IEEE 802.2). Pada LAN Token
Ring digunakan physical layer (IEEE 802.5). Bentuk lain dari LAN
yang kurang dikenal adalah Token Bus (IEEE 802.4). Untuk LAN
berkecepatan tinggi juga telah dikembangkan sebuah standart yang diturunkan
dari IEEE 802.3 yang kemudian dikenal sebagai Fiber Data Distributed
Interface (FDDI).
Pada teknologi packet radio yang
kami gunakan untuk membangun jaringan komputer Paguyuban, protokol link AX.25
digunakan. Format protokol AX.25 tampak pada gambar (7) [18]. Maksimum
informasi (data) yang dapat dikirim dalam satu frame dibatasi 255 byte. Pada
saat ini telah dilakukan beberapa perubahan, khususnya untuk pengiriman data
kecepatan tinggi dan aplikasi TCP/IP dimungkinkan untuk mengirimkan lebih dari
255 byte data dalam satu frame. Frame AX.25 dibuka dan ditutup oleh flag byte
yang berisi 01111110. Address field berisi alamat tujuan, alamat
pengirim paket dan stasiun-stasiun yang berfungsi sebagai relay. Dengan
menggunakan stasiun lain sebagai relay, kita dapat meminta pertolongan dari
stasiun lain untuk mengirimkan data ke tempat tujuan. Hal ini dikenal sebagai
konsep digipeater (digital repeater). Pada control field berisi
indentifikasi bentuk frame AX.25 yang dikirim. Apakah frame ini untuk melakukan
koneksi (membuka hubungan komunikasi), koreksi (jika ada frame AX.25 yang rusak
dalam pengiriman), untuk broadcast dan sebagainya. Packet ID
(PID) digunakan untuk memberitahukan jenis data yang dikirim apakah data ini
berbentuk teks, binary atau protokol pada lapisan network. Frame Check
Sequence (FCS) digunakan oleh bagian penerima pada proses pendeteksian
kesalahan.
Lapisan protokol network, merupakan
tata cara komunikasi connectionless yang memungkinkan berbagai LAN yang
menggunakan media komunikasi yang berbeda untuk berhubungan satu dengan yang
lain. Dalam kategori protokol network dikenal beberapa keluarga protokol
seperti IP (InterNet Protocol) [24], ICMP (InterNet Control Message
Protocol) [25], ARP (Address Resolution Protocol) [26] dan RARP (Reverse
Address Resolution Protocol). Gambaran lengkap keluarga protokol yang
membangun jaringan komputer TCP/IP dapat dilihat di gambar (8). Pada kesempatan
ini, kami hanya akan menerangkan secara lebih seksama protokol IP dan TCP yang
merupakan protokol utama dalam jaringan komputer TCP/IP. Adapun rangkuman
spesifikasi mesin-mesin yang terkait ke InterNet terangkum dalam [27][28].
|
Gambar
8. Keluarga protokol pembangun
arsitektur jaringan komputer TCP/IP
Fungsi dari InterNet Protokol adalah
untuk menyampaikan datagram dari satu komputer ke komputer lain tanpa
tergantung pada media kompunikasi yang digunakan. Data dan header lapisan transport
dipotong menjadi datagram-datagram yang dapat dibawa oleh IP. Tiap datagram
dilepas dalam jaringan komputer dan akan mencari sendiri secara otomatis rute
yang harus ditempuh ke komputer tujuan. Hal ini dikenal sebagai transmisi
connectionless. Dengan kata lain, komputer pengirim datagram sama sekali
tidak mengetahui apakah datagram akan sampai atau tidak.
|
Untuk mengetahui dimana komputer
tujuan, setiap komputer dalam jaringan harus diberikan IP address. IP address
harus unik untuk setiap komputer, tetapi setiap komputer mungkin mempunyai
beberapa IP address. IP address terdiri atas 8 byte data yang mempunyai nilai
dari 0-255 yang sering ditulis dalam bentuk [xx.xx.xx.xx] (xx mempunyai nilai
dari 0-255).
Pada header InterNet Protokol selain
IP address dari komputer tujuan dan komputer pengirim datagram juga terdapat
beberapa informasi lainnya. Informasi ini mencakup jenis dari protokol lapisan
transport yang ditumpangkan diatas IP. Time To Live (TTL) berapa lama IP
dapat hidup didalam jaringan. Hal ini penting artinya terutama karena IP
dilepas di jaringan komputer. Jika karena satu dan lain hal IP tidak berhasil
menemukan alamat tujuan maka dengan adanya TTL IP akan mati dengan sendirinya.
Disamping itu juga tiap IP yang dikirimkan diberikan identifikasi sehingga
bersama-sama dengan IP address komputer pengirim data dan komputer tujuan tiap
IP dalam jaringan adalah unik. Lembaga yang mengatur IP address adalah Network
Information Center (NIC) di Department of Defence di US yang beralamat di
hostmaster@nic.ddn.mil.
Lapisan protokol transport menjamin
reliabilitas komunikasi antara dua buah komputer yang terkait dalam jaringan
yang luas. Pada lapisan protokol transport dikenal beberapa keluarga protokol
seperti TCP (Transmission Control Protocol) [29] dan UDP (User Datagram
Protocol) [30]. Fungsi utama TCP adalah untuk mengirimkan data dari satu
komputer ke komputer lain dengan keandalan tinggi. Dalam hal ini TCP juga yang
mendeteksi dan mengoreksi jika ada kesalahan data. Di samping itu, TCP mengatur
seluruh proses koneksi antara satu komputer dengan komputer yang lain dalam
sebuah jaringan komputer.
Berbeda dengan IP yang mengandalkan
mekanisme connectionless pada TCP mekanisme hubungan adalah connection
oriented. Dalam hal ini, hubungan secara logik akan dibangun oleh TCP
antara satu komputer dengan komputer yang lain. Dalam waktu yang ditentukan
komputer yang sedang berhubungan harus mengirimkan data atau acknowledge
agar hubungan tetap berlangsung. Jika hal ini tidak sanggup dilakukan maka
dapat diasumsikan bahwa komputer yang sedang berhubungan dengan kita mengalami
gangguan dan hubungan secara logik dapat diputus.
TCP mengatur multiplexing dari data
yang dikirim/diterima oleh sebuah komputer. Adanya identifikasi pada TCP header
memungkinkan multiplexing dilakukan. Hal ini memungkinkan sebuah komputer
melakukan beberapa hubungan TCP secara logik. Bentuk hubungan adalah full
duplex, hal ini memungkinkan dua buah komputer saling berbicara dalam waktu
bersamaan tanpa harus bergantian menggunakan kanal komunikasi. Untuk mengatasi
saturasi (congestion) pada kanal komunikasi, pada header TCP dilengkapi
informasi tentang flow control.
Hal yang cukup penting untuk
dipahami pada TCP adalah nomor port. Nomor port menentukan servis apa yang
dilakukan oleh lapisan diatas TCP. Nomor-nomor ini telah ditentukan oleh
Network Information Center dalam Request For Comment (RFC) 1010 [31]. Contoh
untuk aplikasi File Transfer Protokol (FTP) lapisan protokol transport
TCP digunakan nomor port 20 dan masih banyak lagi.
Prinsip kerja dari TCP berdasarkan
prinsip client-server. Server adalah program pada komputer yang
secara pasif akan mendengarkan (listen) nomor port yang telah ditentukan
pada TCP. Sedang client adalah program yang secara aktif akan membuka hubungan
TCP ke komputer server untuk meminta servis yang dibutuhkan. Secara sederhana,
state diagram kerja TCP dapat diterangkan sebagai berikut. Client akan
secara aktif membuka hubungan (active open) dengan mengirimkan sinyal SYN
(state SYN SENT) ke komputer server tujuan. Jika server
menerima sinyal SYN maka server yang saat itu berada pada state LISTEN
akan mengirimkan sinyal ACK SYN dan ke dua komputer (client &
server) akan ke state ESTAB. Jika servis yang dilakukan telah
selesai maka client akan mengirimkan sinyal FIN dan komputer client
akan berada pada state FIN WAIT sampai sinyal FIN dari server
diterima. Pada saat menerima sinyal FIN, server akan ke state CLOSE
WAIT hingga hubungan diputus. Akhirnya kedua komputer akan kembali pada
state CLOSE.
Banyak aplikasi yang mungkin
dilakukan menggunakan keluarga protokol TCP/IP. Program aplikasi yang ada
umumnya dijalankan diatas lapisan protokol transport TCP. Aplikasi yang umum
dilakukan adalah pengiriman berita secara elektronik yang dikenal sebagai
elektronik mail (e-mail). Untuk ini dikembangkan sebuah protokol Simple Mail
Transfer Protocol (SMTP) [32]. Aplikasi lainnya adalah remote login ke komputer
yang berjauhan. Hal ini dilakukan dengan menggunakan fasilitas Telnet [33].
Untuk melakukan file transfer digunakan File Transfer Protocol (FTP) [34] yang
juga dijalankan diatas TCP. Ada pula fasilitas finger untuk melihat pemakai
komputer di mesin yang berjauhan [35]. Dengan semakin rumitnya jaringan maka
manajemen jaringan menjadi penting artinya. Saat ini juga dikembangkan protokol
yang khusus digunakan untuk mengatur jaringan dengan nama Simple Network
Management Protocol (SNMP) [36]. Masih banyak lagi aplikasi yang dijalankan di
atas TCP. Masing-masing aplikasi mempunyai nomor port yang unik.
Satu hal yang cukup menarik dengan
digunakannya protokol TCP/IP adalah kemungkinan untuk menyambungkan beberapa
jaringan komputer yang menggunakan media komunikasi berbeda. Dengan kata lain,
komputer yang terhubung pada jaringan yang menggunakan ARCnet, Ethernet, Token
Ring, SKDP, amatir paket radio dll. dapat berbicara satu dengan lainnya tanpa
saling mengetahui bahwa media komunikasi yang digunakan secara fisik berbeda.
Hal ini memungkinkan dengan mudah membentuk Wide Area Network (WAN) di
Indonesia. Sebagai contoh, kami memperlihatkan pada gambar (9) tingkat
kompleksitas jaringan di PAU Mikroelektronika ITB yang mengintegrasikan LAN
Novell dan UNIX dengan WAN packet radio, keseluruhan sistem transparan bagi
pemakai jaringan.
Perangkat lunak yang digunakan untuk
jaringan komputer TCP/IP juga beragam sekali mulai dari yang sifatnya komersial,
seperti, SCO Unix, AIX, HP-UX, BSD386, window NT dll sampai perangkat lunak
yang tersedia secara public domain (cuma-cuma) bahkan sebagian tersedia
dengan source code-nya, seperti, Network Operating System (NOS) yang
saat ini merupakan salah satu perangkat lunak utama yang digunakan di jaringan
komputer Paguyuban, 386BSD (untuk BSD 3.4 di komputer mikro), Linux yang
merupakan variasi Unix di PC.
Berakar pada keterangan sekilas dari
arsitektur jaringan komputer ini, kami akan mencoba membahas alternatif
teknologi jaringan komputer dan persiapan yang perlu dilakukan untuk membangun
jaringan komputer. Penekanan akan dilakukan pada teknologi yang tersedia di
Indonesia. Beberapa teknologi bahkan tersedia secara cuma-cuma.
ALTERNATIF TEKNOLOGI JARINGAN KOMPUTER
Pada kesempatan selanjutnya ini,
beberapa alternatif teknologi jaringan komputer akan di bahas secara garis
besar. Hal ini dapat dilihat dari beberapa sudut, antara lain:
• Jarak jangkau jaringan
komputer. Hal ini sering berkaitan dengan kecepatan dan jenis media
komunikasi yang digunakan.
• Fleksibilitas
tata-cara komunikasi (protokol) yang digunakan. Apakah protokol yang
digunakan bergantung pada jenis komputer yang digunakan?
Pada kesempatan ini, kami akan
mencoba memfokuskan pada teknologi jaringan komputer untuk komputer mikro (PC)
yang relatif cukup murah dan sangat mudah memperolehnya di Indonesia. Kami akan
membahas dari sudut jangkauan wilayah tempat jaringan komputer tsb.
dioperasikan, yaitu:
• Local Area Network
(LAN) umumnya berada dalam satu ruangan atau dalam satu gedung.
• Wide Area Network
(WAN). Dalam skala kota, sering dikenal dengan sebutan Metropolitan Area
Network (MAN).
LOCAL AREA NETWORK
Pada
LAN, umumnya menggunakan kecepatan tinggi 10-100Mbps.
• Alternatif
saluran penghubung yang digunakan adalah:
m Serial
line,
adalah alternatif termurah akan tetapi sangat tidak fleksible untuk jaringan
yang besar.
m Thin
coax (50 ohm),
umumnya menggunakan coax tipe RG58 dan mampu untuk digunakan untuk jarak
sekitar 200m pada kecepatan 10Mbps.
m Thick
coax (50 ohm),
umumnya menggunakan coax tipe RG8 dan mampu digunakan sampai jarak 500m tanpa
repeater pada kecepatan 10Mbps.
m Twisted
pair,
umumnya digunakan pada kecepatan rendah 2Mbps dan untuk jarak-jarak yang tidak
terlalu jauh.
m Fiber
optics,
umumnya digunakan untuk kecepatan sangat tinggi 100Mbps ke atas. Tentunya
harganya sangat mahal.
• Jenis
perangkat keras yang digunakan juga beragam, tergantung pada metoda akses ke
media komunikasi yang digunakan. Yang cukup banyak dikenal, seperti:
m Ethernet, menggunakan Carrier Sense
Multiple Access / Collision Detection (CSMA/CD). Beberapa tipe Ethernet card
yang banyak dipasaran menggunakan metoda ini adalah 3COM, NE-2000, Western
Digital, SMC, COMPEX.
m Token
Ring,
yang lebih effektif dalam memberi kesempatan bagi setiap PC yang tersambung ke
jaringan untuk mengakses media komunikasi yang digunakan. Teknik Token Ring
digunakan oleh jaringan yang di kembangkan oleh IBM.
• Di
pandang dari sudut protokol komunikasi yang digunakan, dikenal beberapa buah,
seperti:
m Novell, merupakan sistem operasi
jaringan komputer yang di rancang untuk mengkaitkan PC ke dalam jaringan antar
PC yang dapat membuat harddisk dari server / client yang ada menjadi transpran
bagi satu dengan lainnya.
m TCP/IP
(Transmission Control Protocol/InterNet Protocol) yang merupakan standard
protokol pada jaringan InterNet yang tidak tergantung pada jenis komputer yang
digunakan. Dengan menggunakan TCP/IP akan memungkinkan berbagai komputer (PC /
Machintosh / Sun / HP) untuk berinteraksi satu dengan lainnya tanpa masalah
yang berarti. Barangkali perlu dicatat bahwa TCP/IP adalah perlengkapan
standard pada sistem operasi Unix. Saat ini ada beberapa Unix untuk PC yang
dapat diperoleh secara cuma-cuma yaitu 386BSD dan Linux.
m IPX/SPX, adalah standard protokol pada
jaringan Novell untuk mengatasi masalah internetworking pada jaringan PC yang
menggunakan Novell. Pada kenyataannya, sering kali IPX di jalankan berkaitan
dengan TCP/IP karena lebih menguntungkan.
m Protokol
komunikasi Peer-to-Peer,
antara lain di implementasikan pada Window for Workgroup.
• Dari
sudut perangkat lunak aplikasi yang digunakan banyak sekali yang dapat
dijadikan contoh, kami akan mencoba mengambil beberapa sampel yang mudah di
peroleh di Indonesia, seperti:
m Network
Operating System (NOS),
merupakan perangkat lunak yang tersedia secara cuma-cuma berikut source
codenya. Kebetulan kami juga ikut mengembangkan perangkat ini & dapat
diperoleh langsung dari kami. Perangkat ini di rancang terutama untuk aplikasi
PC sebagai router di jaringan komputer TCP/IP yang heterogen yang menggunakan
berbagai media komunikasi. Perangkat ini telah menjadi tulang punggung de-facto
jaringan Paguyuban TCP/IP.
m Window
for workgroup,
merupakan perangkat Window yang di rancang untuk komunikasi peer-to-peer.
Perangkat ini di rancang untuk memudahlan beberapa orang agar dapat bekerjasama
dalam jaringan.
WIDE AREA NETWORK
Pada
WAN, umumnya menggunakan kecepatan yang relatif rendah 1200bps-250Kbps.
• Di tinjau dari sudut
media komunikasi jarak jauh yang digunakan, ada beberapa alternatif yang
mungkin digunakan di Indonesia, seperti:
m Telepon, umumnya kita cenderung untuk
berusaha menggunakan kecepatan setinggi mungkin karena untuk menghemat biaya interlokal.
Sayang sekali kondisi telepon di Indonesia pada beberapa daerah masih kurang
baik sehingga membatasi kecepatan maksimum yang dapat di transmisikan melalui
telepon.
m Sistem
Komunikasi Data Paket (SKDP), sistem ini milik PT. Telkom dan PT. Indosat. Secara
teoritis seharusnya sistem ini memberikan alternatif yang murah untuk
mengembangkan jaringan komputer jarak jauh. Keterbatasan port SKDP yang hanya
di beberapa kota di Indonesia dan pembatasan kecepatan maksimum pemakai pada
2400bps tampaknya menghambat perkembangan sistem komunikasi jarak jauh ini.
m VSAT, alternatif ini merupakan usaha
yang relatif baru yang memungkinkan kita membangun jaringan komputer wilayah
luas di Indonesia menggunakan satelit Palapa. Ada beberapa perusahaan yang
bergerak dalam bidang ini seperti Citra Sari Makmur (CSM), Elektrindo
Nusantara, Lintas Arta.
m Teknologi
Packet Radio,
teknologi ini pertama kali di kembangkan dan di operasikan pada skala besar di
dunia amatir radio. Saat ini, teknologi ini merupakan salah satu tulang
punggung utama pada jaringan antar perguruan tinggi, lembaga penelitian dan
industri di Indonesia. Hal ini dimungkinkan karena biaya operasi jaringan
packet radio sangat rendah. Bahkan beberapa penelitian yang ada mengarah untuk
meningkatkan kecepatan jaringan menjadi 56Kbps dan 125Kbps menggunakan
peralatan yang dikembangkan sendiri di Indonesia. Hal ini mudah-mudahan akan
memungkinkan kita untuk membangun jaringan di Indonesia tanpa perlu terlalu
banyak bergantung pada luar.
• Di tinjau dari sudut tata
cara komunikasi (protokol) yang digunakan:
m X.25, adalah tata cara komunikasi
antar dua buah komputer yang terkait pada Sistem Komunikasi Data Paket (SKDP).
m AX.25, adalah turunan dari X.25 akan
tetapi digunakan sebagai protokol link dalam jaringan packet radio.
m TCP/IP, merupakan tata cara komunikasi
yang secara de-facto merupakan protokol standard yang digunakan dalam jaringan
komputer terbesar di dunia - InterNet. Adalah menguntungkan jika kita
menggunakan protokol ini sejak awal karena banyak vendor / sistem operasi yang
mendukung protokol komunikasi ini.
m UUCP. Unix-to-Unix Copy Program,
awalnya dikembangkan untuk mengirimkan file antar mesin Unix. File-file ini
dapat berupa surat elektronik (E-mail) maupun konferensi elektronik (news).
Solusi ini tidak terlalu baik untuk pengembangan jangka panjang sebuah jaringan
komputer, akan tetapi dapat digunakan untuk solusi sementara yang sifatnya
darurat.
TEKNOLOGI PACKET RADIO
Selanjutnya kami mencoba untuk
menjelaskan teknologi perangkat keras yang sudah mampu dibuat sendiri di
Indonesia. Beberapa teknologi bahkan tersedia secara cuma-cuma. Kami
menggunakan perangkat lunak Network Operating System (NOS) sebagai perangkat
lunak utama yang digunakan untuk mengoperasikan komputer mikro sebagai switch
TCP/IP.
Secara umum teknologi perangkat
keras paket radio, khususnya yang tersedia di Indonesia dapat kita bagi dalam
beberapa alternatif, yaitu:
• modem sederhana 1200bps.
• menggunakan Terminal Node
Controller yang ada dipasaran [37].
• Card HDLC di PC dan modem
56Kbps untuk sistem-sistem berkecepatan tinggi [38][39][40].
Mungkin
perlu dicatat bahwa pembuatan perangkat packet radio berkecepatan 56Kbps
merupakan bagian dari Riset Unggulan Terpadu (RUT) yang sedang dilakukan dalam
kerjasama ITB (KBK Jaringan Komputer PAU Mikroelektronika ITB) dan UGM
(PUSKOM). Kami mentargetkan untuk mengimplementasikan teknologi packet radio
kecepatan 56Kbps ini antara Jakarta - Jawa Barat - Jawa Tengah menggunakan dana
RUT yang mudah-mudahan dapat terealisasi pada tahun 1996 mendatang. Hal ini
diharapkan dapat menjadi terobosan di Indonesia khususnya dalam dunia jaringan
komputer.
Dalam
gambar (10). diperlihatkan diagram blok sebuah stasiun paket radio sederhana
menggunakan modem yang sangat sederhana. Modem tersebut menggunakan one-chip
modem TCM3105. Rangkaian selebihnya hanyalah berupa level translator antara TTL
dengan RS232 (+12V - -12V), dalam hal ini kami menggunakan solusi CMOS inverter
yag dapat diperoleh dengan biaya sekitar Rp. 1.500,- sehingga dapat menekan
biaya secara keseluruhan dibandingkan menggunakan solusi yang lebih praktis
menggunakan TTL-RS232 interface. Kristal yang digunakan adalah 4.4336MHz yang
digunakan pada sinyal burts PAL sehingga sangat mudah diperoleh di Indonesia.
Biaya keseluruhan modem sederhana ini sekitar Rp. 50.000,-. Rangkaian lengkap
dari modem 1200bps sederhana ini dapat dilihat pada gambar (11). Yang perlu
kita tambahkan pada komputer mikro yang kita gunakan hanyalah perangkat lunak
packet driver AX25.COM yang merupakan program resident di komputer mikro yang
bertugas untuk membentuk frame-frame AX.25. Di atas packet driver ini kita
dapat menjalan perangkat lunak NOS TCP/IP yang menjadikan komputer mikro tsb
sebagai sebuah switch dalam jaringan komputer TCP/IP. Tentunya kerja komputer
mikro menjadi terbebani karena harus secara terus menerus memberikan servis
untuk membentuk sinyal High Level Data Link Controller (HDLC). Alternatif ini
dapat berjalan cukup baik menggunakan komputer mikro kelas 286 ke atas.
|
Gambar
12. Set up stasiun paket radio yang
umum digunakan, terdiri dari komputer, Terminal Node Controller dan radio.
Gambar
13. Stasiun packet radio berkecepatan
tinggi 56Kbps dengan peralatan High Level Data Link Controller Chip (HDLC)
card di komputer mikro.
|
Dalam gambar (13). diperlihatkan
diagram blok dari stasiun paket radio berkecepatan tinggi 56Kbps yang saat ini
sedang dalam proses pengembangan oleh tim ITB dan UGM. Secara umum perangkat
lunak 56Kbps terdiri dari card High Level Data Link Controller (HDLC),
modem 56Kbps yang bekerja pada 28MHz dan transverter dari 28MHz ke VHF atau
UHF. Card HDLC yang kami rancang menggunakan Zilog Z8530 yang relatif murah
tetapi handal. Di samping itu, di rencanakan agar Zilog Z8530 tsb. dapat
melakukan transfer data langsung ke memory melalui fasilitas Direct Memory
Access (DMA) sehingga mampu untuk digunakan sampai dengan kecepatan
250Kbps.
Pada gambar (14) ditampilkan blok
diagram rangkaian modulator Minimum Shift Keying (MSK) untuk bekerja pada
kecepatan 56Kbps. Shift dari frekuensi secara presisi diatur 1/4 dari baud
rate, sedang pergeseran fasa dari frekuensi sinyal pembawa sebesar 90 derajat
setiap baud interval. Amplituda dijaga konstant bahkan lebih konstan daripada
jika kita menggunakan PSK. Modulator dibangun menggunakan dua buah double
balanced modulator MC1496. Salah satu modulator dikenal sebagai modulator
"I" (in phase) sedang yang lain adalah modulator "Q"
(quadratur). Frekuensi pembawa dibangkitkan oleh rangkaian oscillator yang
beroperasi pada 27-30MHz. Pembawa yang dimasukan ke modulator "Q"
berbeda 90 derajat daripada pembawa yang dimasukan ke modulator "I".
Waveform sinyal dibangkitkan oleh EPROM yang berisi digital state machine
yang dimasukan ke dua buah digital-to-analog converter (DAC-08).
Kemudian dimasukan ke low pass filter untuk menghilangkan frekuensi harmonik
tinggi sebelum keluaran modulator "I" digabungkan dengan keluaran
modulator "Q". Dengan cara ini kita dapat menghasilkan sinyal data
yang stabil tanpa perlu khawatir kecepatan data yang dikirim. Sebetulnya
pendekatan ini dapat digunakan untuk semua macam teknik modulasi karena sinyal
waveform yang harus dikirim dapat diprogram kedalam waveform.
|
Gambar
14. Blok diagram rangkaian modulator
MSK berkecepatan 56Kbps.
Pada implementasi yang akan kami
lakukan, kami merencanakan untuk menggunakan sebuah tracking data detector
untuk mendemodulasi data yang dikirim menggunakan MSK. Tentunya ada alternatif
implementasi lainnya yang mungkin kita gunakan untuk mendemodulasi data yang
yang dikirim tsb, seperti costas loop. Kerugian utama digunakannya solusi
costas loop adalah karena kompleksitas rangkaian dan lambatnya locking time
yang dibutuhkan. Akan tetapi costas loop mempunyai keuntungan terutama untuk
melawan S/N yang rendah. Hal ini lebih baik dibandingkan menggunakan quadratur
detector yang akan diterangkan dibawah ini.
Pada implementasi demodulator
56Kbps, kami menggunakan detector quadratur menggunakan MC3359 yang dibantu
oleh tracking data detector. Tracking data detector pada dasarnya sebuah
analog komparator yang mempunyai tegangan ambang diantara nilai "0"
dan "1". Untuk menjamin jumlah "0" dan "1" dalam
data yang dikirim seimbang, digunakan rangkaian scrambler yang dapat dibangun
menggunaan shift register dan dua buah XOR gate. Seluruh rangkaian
demodulator di atur clock-nya menggunakan rangkaian Phase Lock Loop
(PLL) dengan mengambil input data yang masuk untuk mengunci frekuensi yang
dihasilkan oleh Voltage Control Oscillator (VCO) dalam PLL. Untuk
jelasnya, dapat kita lihat blok diagram rangkaian demodulator pada gambar (15).
|
|
Gambar
15. Blok diagram rangkaian demodulator
MSK 56Kbps.
Rangkaian transverter relatif sangat
sederhana dibandingkan rangkaian lainnya apalagi dengan tersedianya Monolithics
Microwave Integrated Circuit (MMIC) dipasaran bebas dengan harga yang
sangat murah. Fungsi transverter adalah untuk mentranslasikan frekuensi operasi
modem 56Kbps dari 28MHz ke frekuensi operasi sebenarnya di VHF atau UHF. Isi
transverter hanya berupa:
• Rangkaian oscillator.
• Dua buah mixer (balanced
modulator)
• Driver dan power
amplifier (PA).
• Low Noise Amplifier
(LNA).
Dalam
implementasi transverter ini kami merencanakan untuk banyak menggunakan MMIC
dan Hybrid PA untuk RF yang banyak dipasaran.
INTEGRASI DENGAN JARINGAN KOMPUTER INTERNASIONAL
INTERNET
Pada kesempatan ini akan direview
beberapa eksperimen yang dilakukan beberapa peneliti yang kebetulan semuanya
adalah staf di jurusan teknik elektro ITB untuk menggabungkan jaringan komputer
Paguyuban ke jaringan komputer internasional InterNet menggunakan basis
teknologi packet radio. Tentunya ada beberapa usaha lainnya untuk
mengintegrasikan jaringan komputer Paguyuban ke InterNet yang tidak berbasis
teknologi packet radio, seperti:
|
• UUCP
(Unix-to-Unix Copy Program): oleh PUSILKOM-UI dengan node yang cukup dikenal
yaitu indogtw.csc.ui.ac.id.
• SKDP
(X.25): oleh BPPT ke University of Aachen.
|
Gambar
16. Hubungan internasional menggunakan
satelit berorbit polar VITASAT.
|
Secara
umum usaha untuk mengintegrasikan jaringan komputer Paguyuban dengan jaringan
komputer internasional InterNet menggunakan basis teknologi packet radio
dibantu oleh beberapa satelit komunikasi internasional. Berdasarkan satelit
yang digunakan maupun teknik komunikasinya, kita mengenal dua kelompok yang
bekerja untuk mengintegrasikan jaringan komputer Paguyuban ini, yaitu:
• Satelit VITASAT berorbit
polar yang digunakan oleh kelompok peneliti dibawah pimpinan Prof. Dr. Iskandar
Alisyahbana [42]. Konsep dasar komunikasi menggunakan VITASAT ini dapat dilihat
pada Gambar (16) [43]. Komunikasi internasional menggunakan VITASAT ini tidak
dapat dilakukan secara real-time karena satelit hanya berada dalam
pengamatan dari satu tempat sekitar 4-5 kali per hari. Pengiriman berita
dilakukan menggunakan metoda store-and-forward melalui komputer mikro
kelas 286 [44] yang ada didalam satelit. Hubungan komunikasi dengan satelit
dilakukan pada kecepatan menengah 9600bps [45]. Teknologi statiun bumi yang
digunakan amat sangat sederhana, menggunakan komputer mikro yang dikaitkan ke
TNC dan modem 9600bps. Total biaya untuk perangkat modem dan radio dapat
diperoleh dengan biaya sekitar $2000 sehingga sangat terjangkau bagi sebagian
besar masyarakat. Alternatif ini sangat menarik untuk solusi telekomunikasi ke
pedesaan yang jauh dari jangkauan media telekomunikasi konvensional yang ada
saat ini. Pembangunan statiun bumi satelit kelas Low Earth Orbit (LEO) ini juga
sedang dijalankan oleh Amatir Radio Club (ARC)-ITB dengan target untuk hubungan
komunikasi internasional dengan dunia amatir radio.
|
Gambar
17. Percobaan integrasi jaringan
komputer dengan satelit geo-stasioner ETS-V
|
• Satelit ETS-V yang
berorbit geostationer yang digunakan oleh kelompok peneliti dibawah
pimpinan Ir. Utoro dari Lab. Radar jurusan teknik elektro ITB. Satelit ETS-V
menggunakan L-band sekitar 1.2-1.5GHz sehingga dapat digunakan menggunakan
stasiun bumi yang relatif lebih sederhana dibandingkan satelit PALAPA.
Keuntungan utama yang diperoleh dengan menggunakan satelit geostationar adalah
hubungan komunikasi dengan InterNet dapat dilangsungkan secara real-time.
Percobaan umumnya dilakukan pada kecepatan relatif tinggi 38.4Kbps menggunakan
modulasi Quadrature Phase Shift Keying (QPSK). Beberapa usaha sistematis sedang
berlangsung untuk mencoba mengintegrasikan jaringan komputer melalui satelit ini
dengan WAN packet radio yang sudah operasional. Saat ini, Jepang telah
mengalokasikan waktu untuk membuka hubungan langsung antara Jepang dan
Indonesia menggunakan satelit ini untuk keperluan jaringan komputer selama 7
jam setiap bulan (secara cuma-cuma).
Tentunya
cukup mudah bagi kita untuk membayangkan effek yang ditimbulkan dengan adanya
bantuan komunikasi satelit ini dalam mengintegrasikan jaringan komputer
Paguyuban dengan jaringan komputer internasional InterNet. Jelas bahwa arus
informasi menjadi sangat mudah dan dapat diperoleh dengan biaya yang relatif
murah. Hal ini akan menimbulkan dampak yang sangat positif bagi proses link
& match yang sifatnya internasional; maupun penyiapan SDM di Indonesia
karena secara keseluruhan proses dapat dilakukan tanpa terikat pada dimensi
ruang maupun waktu.
Bagi Indonesia yang sedang
berkembang pembuatan satelit semacam VITASAT (kelas MICROSAT) sangat menarik.
Ada baiknya kita mengacu pengalaman-pengalaman diberbagai negara, seperti,
Korea, Jepang, Argentina, Brasil & beberapa universitas kecil di Amerika
Serikat yang justru menggunakan jalur amatir radio sebagai media untuk alih
teknologi pembuatan & peluncuran MICROSAT. Hal ini dimungkinkan karena
biaya pembuatan satelit kelas MICROSAT sebetulnya sangat rendah dalam orde
ratusan juta rupiah. Hanya dengan melalui jalur amatir radio, Indonesia dalam
memperoleh teknologi satelit MICROSAT secara murah. Hal ini tidak berlaku jika
kita menggunakan jalur-jalur komersial untuk memperoleh disain satelit
tersebut. Usaha yang sistematis untuk mencoba membangun SDM untuk membangun
satelit mikro sedang berlangsung di IPTN, ARC-ITB maupun KBK Jaringan Komputer
PAU Mikroelektronika ITB.
INTEGRASI DENGAN TEKNOLOGI MULTI-MEDIA
Komputer pada dasarnya adalah media
digital, akan tetapi memungkinkan untuk mengintegrasikan data analog yang umum
digunakan dalam dunia komunikasi yaitu gambar dan suara. Beberapa usaha sedang
berjalan untuk mentransmisikan sinyal-sinyal analog pada jaringan komputer ini.
Beberapa usaha pioneering untuk hal ini sedang berjalan di Indonesia, seperti:
• Kompresi suara menggunakan
metoda Code-Excited Linear Predictive (CELP) untuk mentransmisikan suara
secara real-time menggunakan jaringan komputer packet radio dengan kecepatan
4800 bps. Implementasi CELP menggunakan sebuah Digital Signal Processor
(DSP) NEC 77230 pada komputer mikro [46] seperti tampak pada gambar (18).
Penelitian ini dilakukan oleh rekan Armein Langi, M.Sc. dari KBK Multimedia di
PAU Mikroelektronia ITB.
• Implementasi lainnya
adalah mengintegrasikan sinyal gambar yang dapat diperoleh dengan mudah
menggunakan kamera video ke dalam jaringan komputer seperti yang tergambar pada
gambar (19). Transformasi sinyal gambar ke informasi digital dilakukan dengan
bantuan frame grabber di komputer mikro. Ada dua buah program penelitian
yang sedang berjalan secara paralel, yaitu, (1) menggunakan fasilitas surat
elektronik untuk mentransmisikan gambar dan (2) membuka soket TCP untuk
video-conference berbasis jaringan komputer [48][49]. Perbedaannya, alternatif
(1) lebih ditujukan untuk aplikasi off-line, sedang aplikasi (2) lebih
ditujukan untuk aplikasi yang sifatnya on-line dan real-time.
Penelitian ini sedang dalam tahap implementasi di KBK Jaringan Komputer di PAU
Mikroelektronika ITB.
• Penelitian
lainnya dilakukan oleh team yang dipimpin oleh Dr. Ir. Adang Suwandi (EL-ITB).
Penelitian yang dilakukan adalah menggunakan fasilitas jaringan komputer untuk
mengontrol beberapa sentral telepon yang dibangun menggunakan Jaringan Saraf
Tiruan. Sebagai salah satu alternatif saluran komunikasi antar beberapa sentral
telepon di atas, sedang dikembangkan penggunaan jaringan komputer packet radio
sebagai media komunikasinya. Blok diagram sistem yang dikembangkan tampak pada
Gambar (20).
• Penelitian lainnya
dipimpin oleh Dr. Ir. Richard Mengko yang mengintegrasikan peralatan Global
Positioning System (GPS) dengan teknologi packet radio untuk membroadcast data GPS
untuk memperoleh posisi secara akurat. Bahkan mungkin dilakukan integrasi
dengan peta yng diperoleh melalui gambar-gambar satelit.
Dengan
adanya kemungkinan untuk mengintegrasikan sinyal gambar dan suara ke dalam
jaringan komputer packet radio, tentunya kemungkinan untuk memvisualisasikan
informasi secara lebih rinci menjadi lebih terbuka. Hal ini akan banyak sekali
membantu berbagai aspek pembangunan baik yang bersifat pendidikan, sosial,
ekonomi, teknik produksi dsb.
TEKNOLOGI MIKROELEKTRONIKA
Kesinambungan perkembangan wireless
computer network tidak lepas dari kemampuan kita dalam pengadaan komponen
yang dibutuhkan. Salah satu teknologi yang sifatnya sangat strategis adalah
teknologi mikroelektronika. Saat paling tidak ada beberapa lembaga, seperti,
Pusat Antar Universitas bidang Mikroelektronika ITB, TELKOMA-LIPI, PT. LEN
Industri dan PUSILKOM-UI yang bergerak cukup aktif dibidang mikroelektronika di
Indonesia.
Dalam kaitannya dengan wireless
computer network, ada beberapa usaha yang sistematis dalam mengadakan
komponen yang nantinya mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan teknologi
packet radio ini. Komponen yang akan dituju adalah:
• Pembuatan transistor
untuk aplikasi gelombang mikro beserta rangkaian penyesuai impedansi-nya.
Rangkaian penyesuai impedansi dapat dibuat di atas Sapphire menggunakan metoda
sputtering maupun di atas PCB. Pengalaman yang ada di Laboratorium Pemrosesan
IC di PAU Mikroelektronika seudah memungkinkan untuk melakukan uji coba
pembuatan komponen jenis ini.
• Langkah selanjutnya
adalah mengintegrasikan transistor gelombang mikro tsb. menjadi sebuah
rangkaian terintegrasi untuk keperluan gelombang mikro. Hal ini akan dilakukan
berkenaan dengan program Riset Unggulan Terpadu (RUT) 3 yang dikelola oleh
Dewan Riset Nasional (DRN).
• Pembuatan rangkaian
terintegrasi untuk MODEM berkecepatan tinggi. Hal ini tengah diusahakan untuk
menjadi bagian dari kegiatan penelitian untuk memfabrikasi IC menggunakan
metida gate array yang sudah tersedia fasilitasnya di Indonesia. Dana untuk
keperluan ini akan diusahakan dari Riset Unggulan Terpadu (RUT) 3 yang
merupakan kerjasama antara LIPI-TELKOMA dan PAU Mikroelektronika ITB.
Tentunya
masih banyak lagi aplikasi mikroelektronika di Indonesia. Untuk saat ini paling
tidak ke dua komponen di atas yang mempunyai nilai strategis dalam membantu
perkembangan jaringan komputer tanpa kabel di Indonesia.
PERSIAPAN YANG DIPERLUKAN UNTUK MEMBANGUN JARINGAN
KOMPUTER
Keterangan yang kami jelaskan di
atas umumnya merupakan review dari berbagai kemungkinan aplikasi maupun
teknologi yang ada. Dalam mempersiapkan dan mengambil keputusan dalam membangun
jaringan komputer, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan:
• Pengambilan keputusan
tingkat kompleksitas jaringan, antara lain yang sering ditanyakan adalah:
m Apa
fungsi utama jaringan komputer yang kita kembangkan?
m Apa
aplikasi utama yang akan dijalankan oleh jaringan komputer yang dikembangkan?
m Bagaimana
tingkat kompleksitas sistem komputer yang terkait ke jaringan?
m Apakah
jaringan ini direncanakan untuk berkaitan dengan jaringan-jaringan lain yang
berjauhan?
Tentunya
penentuan teknologi yang akan digunakan akan sangat bergantung pada jawaban
dari pertanyaan-pertanyaan diatas.
• Faktor lain yang sering
terlupakan / dilupakan dalam men-set up sebuah jaringan komputer adalah masalah
penanganan masalah operasional sehari-hari jaringan:
m Perlu
dipikirkan untuk membiayai seorang operator jaringan untuk menangani operasi
sehari-hari jaringan. Barangkali lulusan D3 yang didik khusus tentang
operasional jaringan akan merupakan aset yang sangat menguntungkan dalam
operasional jaringan. Tugas operator antara lain, set-up account, melihat
performance jaringan, set-up berbagai perangkat yang terkait ke jaringan, set-up
routing, proteksi dan monitor masalah virus dll.
m Perlu
dipikirkan supaya tidak tergantung pada satu jenis perusahaan dalam penyediaan
peralatan yang dibutuhkan. Oleh karenanya sedapat mungkin digunakan peralatan yang
menggunakan standard yang diakui secara bersama.
m Menyiapkan
diri untuk melakukan training-training secara reguler supaya personil yang ada
dapat secara terus mengikuti perkembangan yang ada. Tentunya jika konferensi
elektronis dapat diaktifkan dan dioperasikan, kemungkinan tidak diperlukan
kursus-kursus reguler ini.
• Dari segi set-up
peralatan jaringan, ada beberapa hal yang perlu dilakukan supaya operasi
jaringan dapat berjalan lancar.
m IP
address, harus dikoordinasikan dengan NIC DDN di Palo Alto, Amerika Serikat.
Kebetulan untuk wilayah Bandung, kami saat ini bertindak sebagai
point-of-contact NIC DDN yang dapat memberikan alokasi IP address kelas C.
m hostname,
nama mesin yang akan di kaitkan terutama jika akan dikaitkan dalam Jaringan
Wilayah Luas (WAN) TCP/IP. Hostname ini menggunakan struktur domain. Untuk
Indonesia kita mengenal beberapa domain, seperti:
« *.ac.id
= untuk institusi akademik di Indonesia.
« *.co.id
= untuk institusi komersial di Indonesia.
« *.or.id
= untuk institusi LSM di Indonesia.
Sebagai
contoh, saat ini kita mengenal itbgtw.itb.ac.id yang merupakan Gateway jaringan
packet radio di Bandung yang terletak di ITB.
m koordinasi
dengan berbagai sysop, terutama untuk routing dan meng-up date domain /
hostname dari komputer-komputer yang terkait.
m topologi
jaringan, perlu diperhitungkan masak-masak terutama dalam kaitannya beban
traffic yang ada di jaringan, routing, memudahkan program aplikasi di jaringan.
Mudah-mudahan
keterang-keterangan di atas ini dapat memberikan gambaran tentang
langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mempersiapkan / membangun sebuah
jaringan komputer.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Onno W. Purbo, "An alternative approach to built low
cost TCP/IP-based Wide Area Network in Indonesia," the South East Asia
Regional Computer Confederation (SEARCC) '92 regional conference, Kuala Lumpur,
14 August 1992.
[2] Onno W. Purbo, "The building of information
infra-structure to sustain the current growth in Indonesia," The
Canadian Association for the Studies of International Development (CASID)
conference, Carleton University, Ottawa, 7-9 June 1993.
[3] O.W. Purbo, "Development of Low Cost Wide Area
Network in Indonesia," Journal of Scientific Indonesia, Vol. 1, No 1,
October 1991.
[4] Onno W. Purbo, "Low cost strategies for a sustainable
microelectronics information system," MICRO'93, Surfers Paradise,
Queensland, Australia 5-8 October 1993.
[5] Trudy E. Bell, "Telecommunications," IEEE
Spectrum, pp. 22-25, Jan. 1994.
[6] T. Katayama, "Rural radio telephony system", NTT
Rev., vol. 1, no. 3, pp. 90‑95, 1989.
[7] A. Saburi, M. Murakami, K. Ikeda, T. Hiyama, "Radio
access system for ISDN", NEC Res. Dev., Special Issue, pp. 78‑90, 1987.
[8] Onno W. Purbo, "Alternatif untuk menyiapkan sumber
daya manusia untuk industri," Pikiran Rakyat, 27 August 1992.
[9] Onno W. Purbo, Heru W. Poerbo dan Hasan Poerbo,
"Jaringan informasi untuk pengembangan wilayah pedesaan," KOMPAS,
6 July 1992.
[10] O.W. Purbo, YC1DAV/VE3, "Sistem komunikasi data paket
radio amatir," majalah Elektron, th. XIV, no. 38, hal. 3815-3820,
1990.
[11] O.W. Purbo, "Jaringan komputer biaya murah menggunakan
radio," KOMPAS 30 Desember 1990.
[12] Onno W. Purbo, "Membangun Indonesia dari bawah bertumpu
pada pengembangan teknologi informasi jaringan komputer: sebuah kisah
nyata," Seminar Hari Pendidikan Nasional, Indonesian Consulate in
Toronto, 8 May 1993.
[13] P.R.Karn, KA9Q, "Amateur TCP/IP: an update,"
Proceedings 7th ARRL Computer Networking Conference, pp. 115‑121, 1988.
[14] O.W. Purbo, YC1DAV/VE3, Armein Langi, VE4ARM, dan Suryono
Adisoemarta, YG1QN/N5SNN, "Alternatif pengembangan jaringan komputer
biaya murah: sebuah studi kasus," Seminar & Kongres PERMIKA,
Toronto, 14-15 September 1991.
[15] Onno W. Purbo, "Kemungkinan merekayasa teknologi packet
radio di Indonesia," Joint LAPAN-DLR Workshop on Communications via
Terrestrial Networks and-or Satellites, Jakarta, 30 September - 1 Oktober 1993.
[16] Phil Karn, KA9Q, "TCP/IP: A proposal for amateur packet
radio levels 3 and 4," Proceedings 4th ARRL Computer Networking
Conference, hal. 4.62‑4.68, 1985.
[17] Phil Karn, KA9Q, "Amateur TCP/IP: an update,"
Proceedings 7th ARRL Computer Networking Conference, hal. 115‑121, 1988.
[18] Terry L. Fox, WB4JFI, "AX.25 amateur packet‑radio link‑layer
protocol : version 2.0 October
1984," American Radio Relay League, 1984.
[19] T. Fox, WB4JFI, "Proposed AX.25 level 2 version 2.0
changes," Proceedings ARRL 7th Computer Networking Conference, hal. 58‑64,
October 1988.
[20] E.L. Scace, K3NA, "Overview of ARRL digital committee
proposals for enhancing the AX.25
protocols into revision 2.1," Proceedings ARRL 7th Computer Networking
Conference, hal. 150‑152, October 1988.
[21] T. Fox, WB4JFI, "AX.25 network sublayer protocol
recommendation," Proceedings 3rd ARRL Computer Networking Conference,
hal. 3.23‑3.29, 1984.
[22] CCITT Recommendation X.25, Interface between Data Terminal
Equipment (DTE) and Data-Circuit Terminating Equipment (DCE) for Terminals
Operating in the Packet Mode on Public Data Networks.
[23] W. Stallings, Handbook of computer communications standards:
local network standards, vol. 2, MacMillan Book, 1987.
[24] J. Postel, "RFC 791: Internet Protocol (IP)," InterNet Network Working Group, September
1981.
[25] J. Postel, "RFC 792: Internet Control Message
Protocol," InterNet Network Working Group, September 1981.
[26] D.C. Plummer, "RFC 826: An Ethernet Address Resolution
Protocol," InterNet Network Working Group, November 1982.
[27] R. Braden, "RFC 1122: Requirements for InterNet Hosts -
Communication Layers," InterNet Network Working Group, October 1989.
[28] R. Barden, "RFC 1123: Requirements for InterNet Hosts -
Application and Support," InterNet Network Working Group, October
1989.
[29] J. Postel, "RFC 793: Transmission Control Protocol,"
InterNet Network Working Group, September 1981.
[30] J. Postel, "RFC 768: User Datagram Protocol,"
InterNet Network Working Group, Agustus 1980.
[31] J. Reynolds dan J. Postel, "RFC 1010: Assigned
Numbers," InterNet Network Working Group, May 1987.
[32] J. Postel, "RFC 821: Simple Mail Transfer
Protocol," InterNet Network Working Group, Agustus 1982.
[33] J. Postel dan J. Reynolds, "RFC 854: Telnet Protocol
Specification," InterNet Network Working Group, May 1983.
[34] J. Postel dan J. Reynolds, "RFC 959: File Transfer
Protocol (FTP)," InterNet Network Working Group, October 1985.
[35] M.T. Horne, KA7AXD, "Finger ‑ a user information lookup
service," Proceedings 7th ARRL Computer Networking Conference, hal. 83‑86,
1988.
[36] J. Case, M. Fedor, M. Schoffstall dan C. Davin, "RFC
1098: A Simple Network Management Protocol," InterNet Network Working
Group, April 1989.
[37] P.R. Karn, KA9Q, H.E. Price, NK6K dan R.J. Diersing, N5AHD, "Packet
radio in the amateur service," IEEE Journal on Selected Areas in Communications,
vol. SAC‑3, hal. 431‑439, 1985.
[38] M. Chepponis, K3MC dan B. Mans, AA4CG, "A totally
awesome high‑speed packet radio I/O
interface for IBM PC/XT/AT/386 and Macintosh II computers,"
Proceedings ARRL 7th Computer Networking Conference, hal. 36‑40, October 1988.
[39] D.A. Heatherington, "A 56 Kilobaud RF Modem",
Proceedings 6th ARRL Computer Networking Conference, Redondo Beach, pp. 68‑75,
1988.
[40] Phil Karn, KA9Q, "WA4DSY 56 bpsk modem", TAPR
Meeting, Tucson, AZ, 1988.
[41] M. Chepponis, K3MC dan P. Karn, KA9Q, " The KISS TNC: A
simple host‑to‑TNC communication protocol," Proceedings 6th ARRL Computer Networking
Conference, Redondo Beach, pp. 38‑43, 1988.
[42] Suryono Adisoemarta and Onno W. Purbo, "Aplikasi
Teknologi Radio Paket dan Satelit Dalam Jaringan Data Komputer Nusantara,"
Seminar PERMIAS, Houston, 28 August 1993.
[43] Tom Clark, W3IWI, "AMSAT's MICROSAT/PACSAT
PROGRAM," Proceedings 7th ARRL Computer Networking Conference, 1988.
[44] O.W. Purbo, "Teknologi mikroelektronika untuk satelit
Palapa," KOMPAS Januari 1991.
[45] M.Davidoff, K2UBC, The satellite experimenter's handbook,
2nd edition, American Radio Relay League, 1990.
[46] Armein Langi dan W. Kinsner, VE4WK, "CELP high-quality
speech processing for packet radio transmission and networking,"
Proceedings 9th ARRL Computer Networking Conference, London, Ontario, Canada,
pp. 164-169, 1990.

